Tuesday, January 29, 2019

ISTRUMEN SEBAGAI ALAT PENGUMPULAN DATA INTERVAL ATAU RASIO


Apabila kita mengukur panjang suatu objek sering akan diperoleh hasil dalam satuan-satuan tertentu, misalnya: 10 cm, 2 m, atau lain sebagainya. Dalam pelaksanaannya kita biasanya menggunakan alat ukur panjang seperti penggaris atau meteran. Alat ukur inilah yang disebut sebagi instrumen pengukuran. Contoh lainnya, ketika ingin mengetahui suhu badan, sering kita menggunakan termometer, alat ukur seperti termometer ini yang kita sebut juga dengan instrumen pengukuran. Atau mengukur berat badan, sering kita gunakan timbangan, karena timbangan merupakan instrumen yang tepat untuk mengukur berat badan. Pada sebuah pengamatan atau bahkan penelitian, kita akan memerlukan suatu instrumen atau alat ukur.
Pada kajian eksakta sering instrumen penelitian sudah ada atau sudah baku seperti meteran, termometer, timbangan, dan lain sebagainya. Akan tetapi dalam bidang pendidikan dan sosial, sedikit sekali kita akan mendapatkan instrumen yang baku karena banyak fenomena di bidang pendidikan dan sosial yang jarang didapatkan instrumen baku untuk pengukurannya. Contohnya motivasi, gaya belajar, prestasi, gaya hidup, gaya kepemimpinan dan variabel-variabel lainnya jarang didapatkan instrumen yang sudah baku untuk pengukurannya. Sehingga para peneliti diharuskan membuat sendiri instrumen penelitiannya. Karena instrumen penelitian akan digunakan untuk melakukan pengukuran dengan tujuan memperoleh data yang akurat maka setiap instrumen harus memiliki skala.
Pada uraian bab sebelumnya telah kita ketahui bahwa terdapat empat macam skala pengukuran data, yaitu: skala nominal, skala ordinal, skala interval, dan skala rasio. Apabila kita menggunakan skala nominal, data yang kita peroleh adalah data nominal, begitupula dengan tiga skala lainnya. Beberapa skala sikap yang sudah dikenal dan dapat kita gunakan untuk memperoleh data interval atau rasio adalah: skala likert, skala guttman, rating scale, dan semantik deferensial.

1.      SKALA LIKERT
Instrumen penelitian yang menggunakan skala likert dapat dibuat dalam bentuk checklist atau pilihan ganda. Contoh dalam bentuk checklist seperti yang tertera pada tabel berikut.





Sedangkan apabila instrumen berbentuk pilihan ganda, dapat anda perhatikan formatnya seperti contoh berikut.




Dalam skala likert, jawaban setiap item instrumen memiliki jenjang interval dari sangat positif sampai dengan sangat negatif. Adanya baris “jumlah” (baris terakhir) pada checklist di atas dapat dihilangkan, apabila tidak dihilangkan dapat digunakan untuk menghitung dalam satu kolom berapa banyak pilihan SS, ST, RG, TS atau STS yang dicentang oleh seorang responden dengan tujuan memudahkan analisa data, apabila dilakukan pengamatan terhadap persepsi setiap individu/responden. Misalkan banyak centang SS dalam satu kolom adalah 4 maka jumlah SS adalah 4, atau banyak centang RG dalam satu kolom adalah 5 maka jumlah RG adalah 5, dan seterusnya.
Misalkan intrumen di atas, berikan kepada 200 responden yang diambil secara random/ acak, dari pertanyaan no. 1 diperoleh data: 75 orang menjawab SS, 50 orang menjawab ST, 25 orang menjawab RG, 30 orang menjawab TS, dan 20 orang menjawab STS. Berdasarkan informasi dari data tersebut, kita dapat melakukan analisa datanya dengan dua cara. Perhatikan uraian penjelasan berikut.


Cara I
Perhatikan berapa banyak responden yang memilih sangat setuju (SS) dan setuju (ST). Jumlah SS dan ST adalah 75 + 50 = 125, apabila dinyatakan dalam persentase maka 125/200 x 100 % = 62,5 %. Artinya mayoritas responden (lebih dari 50 %) menerima penerapan kurikulum baru yang akan diterapkan.


Cara II
Skor untuk SS = 5 x 75 = 375
Skor untuk ST = 4 x 50 = 200
Skor untuk RG = 3 x 25 = 75
Skor untuk TS = 2 x 30 = 60
Skor untuk STS = 1 x 20 = 20

Jumlah total skor perolehan = 375 + 200 + 75 + 60 + 20 = 730
Skor maksimal = 5 x 200 = 1000
Rata-rata skor perolehan  =  jumlah skor total perolehan/skor maksimal x 100 %
                                         730/1000 x 100 %
                                         = 73 %
Artinya mayoritas responden (lebih dari 50 %) menerima penerapan kurikulum baru yang akan diterapkan.


2.  SKALA GUTTMAN
Apabila diinginkan jawaban yang tegas, seperti ya atau tidak, pernah atau tidak pernah, positif atau negatif, dan lain-lain maka skala guttman merupakan instrumen yang dapat kita gunakan. Data yang diperoleh dengan penggunaan skala ini adalah data interval atau rasio dikotomi (dua alternatif) sehingga akan didapatkan dua interval.
Sama dengan skala likert, skala ini dapat dibuat dalam bentuk checklist atau pilihan ganda. Formatnya dapat dilihat sebagai berikut.



Sedangkan apabila instrumen diinginkan berbentuk pilihan ganda, formatnya seperti contoh berikut.



Sama halnya dengan checklist pada skala likert, baris “jumlah” (baris terakhir) pada lembar checklist skala guttman dapat dihilangkan sesuai keperluan peneliti, apabila tidak dihilangkan dapat digunakan untuk menghitung berapa banyak pilihan “Ya” atau “Tidak” yang dicentang oleh seorang responden dalam satu kolom sehingga memudahkan analisa data pengamatan yang fokusnya persepsi setiap individu/responden.

3.  SEMANTIK DEFERENSIAL
Skala ini secara bentuk/format instrumennya berbeda dari dua skala sebelumnya. Tidak berbentuk checklist maupun pilihan ganda, memuat skor-skor penilaian yang terletak ditengah-tengah dan sebelah kiri adalah penilaian positif sebaliknya sebelah kanan adalah penilaian negatif. Sedang skor-skor penilaiannya antara 1 sampai 5, yang diletakkan dari 5 terlebih dahulu di sebelah paling kiri dan paling kanan adalah 1. Variabel/aspek yang dinilai diletakkan pada tengah- tengah atas dari skor-skor penilaian. Lebih jelasnya perhatikan tabel berikut.





Responden yang memberikan nilai 5 berarti persepsinya terhadap gaya kepemimpinan kepala sekolahnya sangat positif, atau dapat dikatakan sangat puas terhadap gaya kepemimpinan kepala sekolah. Apabila memberikan nilai 3 berarti bersikap netral. Sedangkan apabila memberikan nilai 1 persepsinya sangat negatif, atau dapat dikatakan tidak mendukung gaya kepemimpinan kepala sekolah. Pemberian nilai 2 atau 4 mengindikasikan persepsi yang negatif atau positif yang tidak berlebihan terhadap gaya kepemimpinan kepala sekolah. Sehingga dapat dikatakan pemberian nilai 2 berarti tidak mendukung gaya kepemimpinan kepala sekolah dan sebaliknya 4 berarti mendukung gaya kepemimpinan kepala sekolah.
Baris “jumlah” (baris terakhir) pada instrumen semantik deferensial dapat dihilangkan sesuai keperluan peneliti, apabila tidak dihilangkan dapat digunakan untuk menghitung berapa banyak pilihan skor 5, 4, 3, 2, atau 1 yang dicentang oleh seorang responden dalam satu kolom sehingga memudahkan analisa data pengamatan yang fokusnya persepsi setiap individu/responden. 

4. RATING SCALE (SKALA PENILAIAN)
Apabila peneliti ingin menggunakan rating scale (skala penilaian), sebagai contoh formatnya perhatikan 2 tabel dibawah ini.










Perbedaan dari rating scale dengan tiga skala sikap lainnya adalah diperolehnya data mentah yang berupa angka (kuantitatif) yang kemudian ditafsirkan secara kualitatif. Sedangkan tiga skala sikap lainnya memperoleh data kualitatif kemudian dikuantitatifkan. Sehingga rating scale lebih flexible dan tidak terbatas pada pengukuran sikap saja, tetapi dapat digunakan untuk pengukuran persepsi responden terhadap fenomena-fenomena lainnya.
Empat instrumen pengukuran di atas merupakan instrumen yang sering digunakan untuk memperoleh data interval atau rasio.


DAFTAR PUSTAKA

Arikunto, Suharsimi. 2010. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik; Edisi Revisi 2010. Jakarta: Rineka Cipta.
Sugiyono. 2010. Statistika Untuk Penelitian. Bandung: Alfabeta.
Sugiyono.2012. Metode Penelitian kuantitatif, kualitatif, dan R & D. Bandung: Alfabeta.