Tuesday, January 29, 2019

JENIS SKALA PENGUKURAN DATA


Skala merupakan perbandingan kategori suatu objek yang diberi bobot nilai yang berbeda. Contoh dalam penerapannya, dahulu sering kita ketahui ketika dijenjang sekolah dasar kita pernah mempelajari skala pada peta, jarak kota A dan B pada peta 1 cm dan jarak sesungguhnya 10 km, artinya perbandingan antara jarak pada peta dengan jarak sesungguhnya dinyatakan dengan nilai perbandingan 1 : 1.000.000. Dalam hal ini, kita mengetahui jarak merupakan suatu variabel karena adanya variasi dan kita menggunakan skala untuk memberi bobot nilai antara jarak pada peta dengan jarak sesungguhnya sebagai objeknya. Contoh lainnya usia ana dan didit memiliki perbandingan 2 : 1, artinya apabila ana berusia 20 tahun maka usia didit 10 tahun. Usia merupakan variabel, sedangkan ana dan didit merupakan subjeknyanya, nilai 2 : 1 merupakan bobot nilai yang diberikan.
Ketika melakukan penelitian atau pengamatan terhadap suatu objek atau karakteristik tertentu, untuk keperluan analisa seringkali kita memberikan atau meletakkan angka kepada objek atau karakteristik pengamatan tersebut. Pemberian atau peletakkan angka inilah yang sering dikenal sebagai pengukuran. Tanpa melakukan pengukuran sulit bagi kita untuk menganalisa atau bahkan membuat kesimpulan tentang objek pengamatan. Misalkan kita mengamati pencapaian hasil belajar lima orang siswa melaui nilai akhir semesternya, yang datanya disajikan dalam tabel berikut.
                                   
                                            TABEL.1 PENCAPAIAN HASIL BELAJAR
Subjek ke-
Nilai Akhir Semester
1
79
2
88
3
64
4
76
5
82

Nilai-nilai yang tercantum dalam tabel merupakan hasil pengukuran. Subjek ke-1 memperoleh nilai 79, nilai ini merupakan hasil pengukuran terhadap pencapaian hasil belajarnya. Kita juga dapat mengetahui berdasarkan tabel bahwa subjek ke-2 memiliki pencapain hasil belajar terbaik. Hal inilah yang dipahami sebagai pembuatan kesimpulan setelah melakukan pengukuran.
Belajar tentang penelitian pada praktiknya akan berhubungan dengan data-data, sehingga kita perlu untuk mengenal jenis-jenis data. Dalam penelitian data dikelompokkan menjadi dua, yaitu data kualitatif dan data kuantitatif. Data kualitatif berbentuk kalimat, kata-kata, atau gambar. Sedangkan data kuantitatif berbentuk angka atau bilangan. Data kuantitatif terbagi menjadi data diskrit (sering juga disebut dengan data nominal) dan data kontinu, data diskrit diperoleh dari hasil menghitung atau membilang sedangkan data kontinu diperoleh dari mengukur (pengukuran). Misalkan menghitung banyak objek diperoleh sebanyak 20 atau 25 objek, sehingga 20 atau 25 merupakan data diskrit. Atau keluarga pak anto memiliki 2 anak laki-laki dan 1 anak perempuan, 2 dan 1 yang diperoleh dari pengamatan terhadap keluarga pak anto ini merupakan data diskrit. Data tentang tinggi badan 2 orang mahasiswa menyatakan bahwa mahasiswa A memiliki tinggi 168,5 cm dan mahasiswa B 171,2 cm, data tinggi badan tersebut merupakan data kontinu karena diperoleh melalui pengukuran atau luas daerah X adalah 674,9 km2, juga merupakan data kontinu. Data kontinum dikelompokkan menjadi tiga, yaitu: data ordinal, data interval, dan data rasio. Selengkapnya perhatikan gambar tentang jenis-jenis data berikut.

 
                                                      Gambar Jenis Data

Terdapat  4 macam skala pengukuran data, yaitu: nominal, ordinal, interval dan rasio. Sesuai dengan namanya, maka skala nominal untuk mengukur data nominal, skala ordinal untuk mengukur data ordinal, dan seterusnya. Adapun penjelasan untuk empat skala tersebut adalah sebagai berikut.

1. Skala Nominal (skala label)
Adalah tipe skala yang semata-mata hanya untuk memberikan indeks, atau penamaan (label) saja dan tidak mempunyai makna yang lain. Sebagi contoh perhatikan informasi yang disajikan dalam tabel berikut:

                                    TABEL.2  PENGGUNAAN SKALA NOMINAL
Data
Kode (a)
Kode (b)
Kode (c)
Budi
1
4
3
Ina
2
2
4
Doni
3
3
1
Eka  
4
1
2

Pemberian kode (a), (b), atau (c) semata-mata hanyalah untuk memberi tanda saja, dan tidak bertujuan membandingkan antara satu data dengan data lainnya. Kode-kode tersebut dapat saling ditukarkan sesuai dengan keinginan pengguna data tanpa mempengaruhi apa pun, sehingga kita dapat memilih sebuah kode dari tiga jenis kode tersebut. Misalkan kita memilih kode (b), budi diberi kode 4, ina diberi kode 2, dan seterusnya. Penempatan angka ini tidak bermakna apapun atau hanya merupakan label saja, artinya tidak dapat diartikan bahwa budi lebih dari eka karena diberikan kode 4 yang mana secara bilangan bermakna lebih dari 1.
Sebagai contoh lainnya, perhatikan tabel berikut yang menunjukkan skala pengukuran data dengan meninjau faktor jenis kelamin.

                           TABEL. 3 PENGKODEAN UNTUK JENIS KELAMIN
Data
Jenis Kelamin
Kode (a)
Kode (b)
Budi
Laki-laki
1
4
Ina
Perempuan
2
8
Doni
Laki-laki
1
4
Eka 
Perempuan
2
8

Apabila kita menggunakan kode (a), laki-laki diberikan kode angka 1 dan perempuan kode angka 2. Pemberian ini tidak dimaksudkan untuk memberi makna perempuan lebih dari laki-laki, seperti makna bilangan 2 yang lebih dari 1. Pemberian kode ini hanya menjadi pembeda dan tidak bermaksud membuat perbandingan.
Berdasarkan uraian dan contoh penjelasan di atas dapat dibuat suatu kesimpulan bahwa skala nominal merupakan skala yang hanya digunakan untuk memberikan kategori saja, seperti memberi label, simbol, lambang, atau nama suatu kategori bertujuan memudahkan pengelompokan data menurut kategorinya. Skala nominal merupakan skala yang tingkatannya paling rendah dari empat skala pengukuran lainnya.

2. Skala Ordinal (skala peringkat)
Adalah skala ranking (memiliki makna jenjang/tingkatan), di mana pemberian kode akan memberikan makna urutan/tingkatan tertentu pada data, namun skala ini tidak menunjukkan makna selisih yang sama atau jarak/interval antar tingkatannya belum jelas. Skala ini memiliki tingkatan yang lebih tinggi daripada skala nominal karena tidak hanya menyatakan kategori saja tetapi sudah dapat menyatakan peringkat.
Untuk lebih mengenal tentang skala ini, perhatikanlah tabel berikut beserta uraian-uraian penjelasannya.
TABEL.4 DATA PNS INSTANSI “A”
Nama PNS
Golongan
Lama bekerja
(Dlm thn)
Pendidikan terakhir
Budi
IV A
33
S1
Ina
III D
21
D3
Doni
III B
4
S2
Anita
III A
10
D3
Iwan
II C
12
SLTA
Eka
II D
14
SLTA

Apabila kita perhatikan kolom kedua tentang golongan pegawai pada tabel di atas, penempatan kode IVA atau IIIB menunjukakan adanya peringkat, artinya golongan pegawai merupakan variabel yang dapat diukur dengan skala ordinal. Perhatikan pula pada kolom pendidikan terakhir, juga merupakan variabel yang dapat diukur menggunakan skala ordinal.
Apabila kita memberikan kode/pengkodean seperti yang tercantum pada tabel berikut ini.

TABEL.5  PENGGUNAAN SKALA ORDINAL
Nama PNS
Golongan
Kode (A)
Pendidikan terakhir
Kode (B)
Budi
IV A
1
S1
2
Ina
III D
2
D3
3
Doni
III B
3
S2
1
Anita
III A
4
D3
3
Iwan
II D
5
SLTA
4
Eka
II C
6
SLTA
4
     
              Keterangan:    Kode (A) untuk golongan
                                      Kode (B) untuk pendidikan terakhir
Penempatan angka/pengkodean seperti pada kolom 3 dan 5, merupakan contoh penggunaan skala pengukuran ordinal, karena pengkodean ini memberi makna adanya kategori dan peringkatnya.

3. Skala Interval (skala jarak)
Merupakan skala pengukuran yang memiliki tingkatan yang lebih tinggi dari skala ordinal. Skala ini memiliki jarak/interval antar tingkatan yang sudah jelas. Namun skala ini tidak memiliki nilai nol mutlak sehingga antara satu pengukuran dengan pengukuran lainnya tidak dapat ditentukan bilangan pembandingnya.
Sebagai contohnya, waktu/jam pengukurannya dapat menggunakan skala interval. Jarak/selisih antara 05.00 – 10.00 adalah sama dengan selisih antara pukul 12.00 siang sampai pukul 17.00 sore. Tidak adanya nol mutlak dapat terlihat ketika waktu menunjukkan pukul 00.00 yang berarti sama dengan pukul 24.00. Contoh lainnya adalah suhu ruangan. Sebuah ruangan memiliki suhu 20 ̊ C, dan ruangan lainnya memiliki suhu 25 ̊C, kita dapat mengatakan bahwa selisih suhu kedua ruangan 5 ̊ C sehingga makna adanya jarak/interval dapat teramati. Namun ketika suhu berada pada  0 ̊ C, nilai 0 disini bukanlah nilai nol mutlak, karena meskipun 0 ̊ C bukan berarti tidak memiliki suhu.

4. Skala Rasio (skala mutlak)
Adalah skala pengukuran yang paling tinggi tingkatannya diantara tiga skala lainnya, karena skala rasio memiliki sifat-sifat tiga skala lainnya. Selain itu dalam skala ini terdapat nilai nol mutlak yang tidak dimiliki skala nominal, ordinal, maupun interval. Nilai nol mutlak menyatakan makna benar-benar tidak ada. Untuk penjelasannya, perhatikan tabel berikut.

TABEL.6  TINGGI DAN BERAT BADAN
Data
Tinggi Badan
(dalam cm)
Berat badan
(dalam kg)
Alex
176
86
Desi
155
47
Wawan
172
84
Yunita
147
42

Tinggi badan atau berat badan diukur menggunakan skala rasio, karena tinggi badan atau berat badan memiliki nilai nol mutlak. Artinya ketika tinggi badan seseorang 0 cm, akan bermakna tidak memiliki tinggi badan dan begitu pula ketika berat badan 0 kg akan bermakna tidak memiliki berat badan. Meskipun dalam suatu pengamatan akan mustahil dijumpai tinggi badan atau berat badan yang bernilai 0. Contoh lainnya yang juga diukur dengan skala rasio adalah pendapatan keluarga setiap bulan, apabila dijumpai sebuah keluarga dengan pendapatan 0 rupiah per bulan akan bermakna keluarga tersebut tidak memiliki penghasilan bulanan. Sehingga nilai 0 dalam kasus ini adalah nilai nol mutlak.
Akibat adanya nilai nol mutlak, tiap-tiap satuan yang diukur dapat diperbandingkan. Kembali pada kasus pendapatan keluarga setiap bulan, keluarga pak anton berpenghasilan 5 juta per bulan sedangkan keluarga pak budi berpenghasilan 10 juta per bulan, maka dapat dinyatakan bahwa pendapatan keluarga pak budi 2 kali pendapatan keluarga pak anton. Pada kasus tinggi badan dan berat badan di atas, kita dapat menyatakan wawan mempunyai berat badan dua kali lipat berat badan yunita, atau, alex mempunyai tinggi badan 1,13 % lebih tinggi dari pada desi.
Untuk lebih memahami perbedaan sifat-sifat empat skala di atas, berikut ini akan disajikan tabel yang berisikan variabel-variabel yang diukur dengan empat skala tersebut dan juga terdapat kolom keterangan yang menunjukkan dasar pengukuran variabel kenapa diukur dengan skala tertentu.

TABEL. 7 CONTOH PENGUKURAN VARIABEL

VARIABEL

KETERANGAN
JENIS SKALA PENGUKURAN
Nama Negara
Tiap satuan yang diukur dapat dibedakan, tidak memiliki makna tingkatan, tidak memiliki makna jarak secara numerik, tidak dapat diperbandingkan/tidak memiliki nilai nol mutlak.
Nominal
Nama Agama
Jenis produk
Jenis kelamin
Golongan pegawai
Tiap satuan yang diukur dapat dibedakan, memiliki makna tingkatan, tidak memiliki makna jarak secara numerik, tidak dapat diperbandingkan/tidak memiliki nilai nol mutlak.
Ordinal 
Jenjang pendidikan
Tingkat akreditasi
Tahun kelahiran
Tiap satuan yang diukur dapat dibedakan, memiliki makna tingkatan, memiliki makna jarak secara numerik, tidak dapat diperbandingkan/tidak memiliki nilai nol mutlak.
Interval
IQ
Suhu badan
Nilai IPK
Panjang benda
Tiap satuan yang diukur dapat dibedakan, memiliki makna tingkatan, memiliki makna jarak/selisih secara numerik, dan dapat diperbandingkan/memiliki nilai nol mutlak.
Rasio
Gaji bulanan
Berat badan
Tinggi badan

Berikut ini juga akan disajikan tabel tentang perbandingan sifat-sifat skala pengukuran yang dapat membantu untuk memahami lebih jelas perbedaan dari sifat-sifat empat jenis skala pengukuran yang ada.

TABEL.8 PERBANDINGAN SIFAT-SIFAT SKALA PENGUKURAN

Jenis skala pengukuran
Sifat-sifat skala pengukuran

Membedakan

Tingkatan
Makna jarak
Secara numerik
Memiliki
Nol mutlak
Nominal
Ya
Tidak
Tidak
Tidak
Ordinal
Ya
Ya
Tidak
Tidak
Interval
Ya
Ya
Ya
Tidak
Rasio
Ya
Ya
Ya
Ya


DAFTAR PUSTAKA
Arikunto, Suharsimi. 2010. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik; Edisi Revisi 2010. Jakarta: Rineka Cipta.
Sudjana. 2005. Metoda Statistika; edisi keenam. Bandung: Tarsito.
Sugiyono. 2010. Statistika Untuk Penelitian. Bandung: Alfabeta.
Sugiyono.2012. Metode Penelitian kuantitatif, kualitatif, dan R & D. Bandung: Alfabeta.


2 comments:

  1. berarti data kualitatif tidak menggunakan skala kk?

    ReplyDelete
  2. 10 videos from 'betting on basketball': videos, videos, and best ways to
    The NBA basketball betting season is here, and the NBA schedule is coming! Check out below these free clips of download youtube videos the entire season:

    ReplyDelete